HARI PENDIDIKAN NASIONAL
Hanifa Blog's
Selasa, 20 Mei 2014
HARI PENDIDIKAN NASIONAL
Rabu, 30 April 2014
Hari Buruh Internasional
Artikel | May Day 2014 Menuju Kesejahteraan Buruh
Peringatan 1 Mei sebagai hari buruh nasional sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1920. Sewaktu itu, Ibarruri Aidit (putri sulung D.N. Aidit) sewaktu kecil bersama ibunya pernah menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional di Uni Sovyet, sesudah dewasa menghadiri pula peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 1970 di Lapangan Tian An Men RRC. Pada peringatan tersebut hadir pula Mao Zedong, Pangeran Sihanouk dengan istrinya Ratu Monique, Perdana Menteri Kamboja Pennut, Lin Biao (orang kedua Partai Komunis Tiongkok) dan pemimpin Partai Komunis Birma Thaksin B Tan Tein.
Namun sejak masa pemerintahan Orde Baru hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia, dan sejak itu, 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi. Ini disebabkan karena gerakan buruh banyak dihubungkan dan digerakan oleh tokoh-tokoh berhaluan paham komunis yang sejak kejadian G30S pada 1965 ditabukan di Indonesia. Semasa Soeharto berkuasa, aksi untuk peringatan May Day masuk kategori aktivitas subversif yang harus diwaspadai karena May Day selalu dikonotasikan dengan ideologi komunis.
Kartini
Sejarah Singkat R.A. Kartini
Raden Adjeng Kartini adalah seorang putri Raden Mas Sosroningrat,
bupati Jepara. Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Kartini adalah
anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara
sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan
keluarga yang cerdas. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan
bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini
belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal
di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Selasa, 29 April 2014
KARTINI
Penulis: Redaksi Asy-Syariah
Masalah
kewanitaan dalam Islam menjadi tema yang tak habis-habisnya disoroti
oleh aktivis perempuan dan kalangan feminis. Dari soal kepemimpinan,
“diskriminasi” peran, partisipasi yang “rendah” karena posisinya yang
dianggap “subordinat”, hingga poligami. Semuanya bermuara pada sebuah
gugatan bahwa wanita harus mempunyai hak yang sama alias sejajar dengan
pria. Seolah-olah dalam agama ini terjadi pembedaan (yang membabi buta)
antara pria dan wanita.
Adalah sebuah kenyataan, wanita berbeda dengan pria dalam banyak hal. Dari perbedaan kondisi fisik, sisi emosional yang menonjol, sifat-sifat bawaan, dan sebagainya. Makanya syariat pun memayungi perbedaan ini dengan adanya fiqh yang khusus diperuntukkan bagi laki-laki dan fiqh yang dikhususkan bagi perempuan.
Secara fisiologis, misalnya, wanita mengalami haid hingga berkonsekuensi berbeda pada hukum-hukum yang dibebankan atasnya. Sementara dari kejiwaan, pria umumnya lebih mengedepankan akalnya sehingga lebih bijak, sementara wanita cenderung mengedepankan emosinya. Namun dengan emosi yang menonjol itu, wanita patut menjadi ibu yang mana punya ikatan yang kuat dengan anak. Sebaliknya, dengan kelebihannya, laki-laki pantas menjadi pemimpin sekaligus menjadi tulang punggung dalam rumah tangganya.
Hal-hal di atas bersifat kodrati, bukan label sosial yang dilekatkan (sebagaimana sering didalilkan kaum feminis). Semuanya itu merupakan tatanan terbaik yang diatur Sang Pencipta, Allah l. Kelebihan dan kekurangan masing-masing akan saling melengkapi sehingga pria dan wanita bisa bersenyawa sebagai suami istri. Namun tatanan ini nampaknya hendak dicabik-cabik oleh para penjaja emansipasi yang mengemasnya sebagai “kesetaraan” jender, yang mana hal itu telah diklaim sebagai simbol kemajuan di negara-negara Barat.
Para feminis dan aktivis perempuan itu seolah demikian percaya bahwa kemajuan terletak pada segala hal yang berbau Barat. “Akidah” ini, sekaligus merupakan potret dari sebagian masyarakat Islam sekarang. Di mana busana, kultur, sistem politik (demokrasi) hingga makanan ’serba Barat’ telah demikian kokoh menjajah ‘gaya hidup’ sebagian kaum muslimin.
Demikian juga emansipasi. Propagandanya telah memperkuat citra yang
rendah terhadap ibu rumah tangga -yang jamak ditekuni oleh sebagian
besar muslimah-, bahwa berkutatnya wanita dalam wilayah domestik
dianggap keterbelakangan sebelum bisa menapaki karir.
Falsafah ini kian diperparah dengan paham yang mendewakan kecantikan fisik. Alhasil, ada wanita yang tidak mau menyusui, hanya mau melahirkan lewat jalan operasi, dan sebagainya, (konon) demi semata menjaga “bentuk tubuh”. Sedemikian rusaknya pandangan ini, hingga anak pun dianggap sebagai penghambat kemajuan (karir).
Adalah sebuah kenyataan, wanita berbeda dengan pria dalam banyak hal. Dari perbedaan kondisi fisik, sisi emosional yang menonjol, sifat-sifat bawaan, dan sebagainya. Makanya syariat pun memayungi perbedaan ini dengan adanya fiqh yang khusus diperuntukkan bagi laki-laki dan fiqh yang dikhususkan bagi perempuan.
Secara fisiologis, misalnya, wanita mengalami haid hingga berkonsekuensi berbeda pada hukum-hukum yang dibebankan atasnya. Sementara dari kejiwaan, pria umumnya lebih mengedepankan akalnya sehingga lebih bijak, sementara wanita cenderung mengedepankan emosinya. Namun dengan emosi yang menonjol itu, wanita patut menjadi ibu yang mana punya ikatan yang kuat dengan anak. Sebaliknya, dengan kelebihannya, laki-laki pantas menjadi pemimpin sekaligus menjadi tulang punggung dalam rumah tangganya.
Hal-hal di atas bersifat kodrati, bukan label sosial yang dilekatkan (sebagaimana sering didalilkan kaum feminis). Semuanya itu merupakan tatanan terbaik yang diatur Sang Pencipta, Allah l. Kelebihan dan kekurangan masing-masing akan saling melengkapi sehingga pria dan wanita bisa bersenyawa sebagai suami istri. Namun tatanan ini nampaknya hendak dicabik-cabik oleh para penjaja emansipasi yang mengemasnya sebagai “kesetaraan” jender, yang mana hal itu telah diklaim sebagai simbol kemajuan di negara-negara Barat.
Para feminis dan aktivis perempuan itu seolah demikian percaya bahwa kemajuan terletak pada segala hal yang berbau Barat. “Akidah” ini, sekaligus merupakan potret dari sebagian masyarakat Islam sekarang. Di mana busana, kultur, sistem politik (demokrasi) hingga makanan ’serba Barat’ telah demikian kokoh menjajah ‘gaya hidup’ sebagian kaum muslimin.
Falsafah ini kian diperparah dengan paham yang mendewakan kecantikan fisik. Alhasil, ada wanita yang tidak mau menyusui, hanya mau melahirkan lewat jalan operasi, dan sebagainya, (konon) demi semata menjaga “bentuk tubuh”. Sedemikian rusaknya pandangan ini, hingga anak pun dianggap sebagai penghambat kemajuan (karir).
Kamis, 06 Februari 2014
http://www.okezone.com/http://www.okezone.com/
https://www.facebook.com/https://www.facebook.com/
https://twitter.com/https://twitter.com/
http://www.yahoo.com/http://www.yahoo.com/
http://blog.com/http://blog.com/
http://www.bing.com/search?setmkt=en-US&q=toko+bagus.comhttp://www.bing.com/search?setmkt=en-US&q=toko+bagus.com
http://berniaga.com/http://berniaga.com/
http://www.photoshop.com/http://www.photoshop.com/
http://www.bing.com/search?setmkt=en-US&q=you+tube.comhttp://www.bing.com/search?setmkt=en-US&q=you+tube.com
https://www.google.com/https://www.google.com/
https://www.facebook.com/https://www.facebook.com/
https://twitter.com/https://twitter.com/
http://www.yahoo.com/http://www.yahoo.com/
http://blog.com/http://blog.com/
http://www.bing.com/search?setmkt=en-US&q=toko+bagus.comhttp://www.bing.com/search?setmkt=en-US&q=toko+bagus.com
http://berniaga.com/http://berniaga.com/
http://www.photoshop.com/http://www.photoshop.com/
http://www.bing.com/search?setmkt=en-US&q=you+tube.comhttp://www.bing.com/search?setmkt=en-US&q=you+tube.com
https://www.google.com/https://www.google.com/
ARTIKEL
PMR
. SEJARAH
PALANG MERAH INTERNASIONAL
Bapak palang merah internasional adalah
Jeand I Ienry Dunant, di lahirkan di Negara Swiss tanggal 08 Mei 1828. Ayahnya
bernama Jean Jaques Dunant, ibunya bernama Anne Antonic Colladon.
Pada musim panas Jean Henry Dunant pergi ke
italia di kota solferino, disana sedang terjadi perang antara Prancis Sardinia
malawa Raja Frans Joseph dari Austria. Perang tersebbut terjadi pada tanggal 25
juni 1859 dan mengakibatkan lebih dari 40.000 dari 309.000 perajurit luka-luka
dan tewas.
Langganan:
Komentar (Atom)
